Pendidikan di Era Digital dan Kecerdasan Buatan: Menjaga Arah, Merawat Nilai
Pendidikan di Era Digital dan Kecerdasan
Buatan: Menjaga Arah, Merawat Nilai
Opini Mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Lancang Kuning : Lusi
Marlina Simanullang, S. Pd. Gr.
Menurut McCarthy (2007), kecerdasan buatan adalah disiplin
ilmu dan teknologi yang berkaitan dengan upaya menciptakan mesin
cerdas, terutama melalui pengembangan perangkat lunak dan aplikasi
komputer yang memiliki kemampuan kognitif.
AI merupakan bentuk
kemajuan teknologi yang bertujuan menghasilkan sistem, seperti
komputer dan robot, yang mampu beroperasi layaknya kecerdasan
manusia. Pesatnya perkembangan AI turut memengaruhi berbagai
aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Pada era digital saat ini.
AI hadir sebagai solusi dalam membantu mahasiswa menghadapi
kesulitan belajar sekaligus meningkatkan hasil akademik.
Tak hanya itu, AI juga mempercepat perkembangan teknologi pendidikan
dengan menciptakan sistem pembelajaran yang lebih personal,
adaptif, dan efisien.
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah
mengubah wajah pendidikan secara cepat dan mendasar. Sekolah, madrasah, dan perguruan
tinggi.
kini tidak lagi sekadar ruang tatap muka, melainkan bagian dari ekosistem digital yang terus berkembang. Transformasi ini menghadirkan peluang besar, tetapi sekaligus menyimpan
tantangan serius. Di tengah euforia inovasi teknologi, pendidikan dihadapkan pada satu.
persoalan penting: bagaimana memastikan kemajuan digital tetap sejalan dengan tujuan
pedagogis dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam kajian teori pendidikan, teknologi sejatinya dipahami sebagai alat bantu pembelajaran.
Bukan tujuan akhir. John Dewey menekankan bahwa pendidikan harus berangkat dari pengalaman peserta didik dan relevan dengan kehidupan nyata.
Teknologi digital dan AI dapat memperkaya pengalaman belajar tersebut melalui akses informasi luas, pembelajaran interaktif, serta sistem belajar adaptif yang
menyesuaikan dengan kebutuhan individu. Dari perspektif konstruktivisme, teknologi.
Memberi ruang bagi peserta didik untuk membangun pengetahuan secara aktif dan mandiri.
Namun realitas pendidikan menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi belum
sepenuhnya berpijak pada paradigma pedagogis tersebut. Di banyak sekolah dan perguruan tinggi, digitalisasi pembelajaran masih sebatas memindahkan metode lama ke media baru.
Proses belajar sering kali tereduksi menjadi pengiriman materi dan tugas melalui platform daring, tanpa dialog, refleksi, dan interaksi bermakna. Pendidikan menjadi efisien secara
teknis, tetapi kehilangan kedalaman proses belajar. Kehadiran kecerdasan buatan memperkuat
dilema ini.
AI menawarkan berbagai kemudahan, mulai dari penilaian otomatis, analisis
kemajuan belajar, hingga tutor virtual. Dalam kerangka behavioristik, AI mampu memberikan umpan balik cepat dan konsisten. Sementara dalam pendekatan humanistik.
AI berpotensi membantu guru memahami kebutuhan belajar peserta didik secara lebih personal. Dengan kata
lain, AI memiliki potensi pedagogis yang besar jika digunakan secara tepat.
Sayangnya, penggunaan AI yang tidak disertai literasi dan etika justru memunculkan masalah baru.Di perguruan tinggi, penggunaan AI generatif dalam penulisan tugas akademi.
Menimbulkan persoalan integritas, kejujuran ilmiah, dan tanggung jawab akademik.
Di tingkat sekolah, ketimpangan akses teknologi memperlebar jurang pendidikan antara peserta didik yang memiliki fasilitas digital memadai dan mereka yang berada di daerah tertinggal.
Pendidikan yang seharusnya menjadi alat pemerataan justru berisiko memperkuat ketidakadilan.
Dalam konteks ini, peran guru menjadi semakin strategis dan tidak tergantikan. Paulo Freire menegaskan bahwa pendidikan adalah proses pemanusiaan dan pembebasan, bukan
sekadar aktivitas teknis. Guru bukan hanya penyampai materi, melainkan pendamping yang
membimbing peserta didik berpikir kritis, reflektif, dan beretika. Teknologi dan AI seharusnya menjadi mitra guru dalam pembelajaran, bukan pengganti peran pedagogisnya.
Seiring kemajuan teknologi AI, peran guru mengalami transformasi signifikan, yakni dari peran transmisif menuju peran fasilitatif dan mentoring dalam mendampingi peserta didik
menggunakan AI secara etis dan efektif. Selain itu, pemanfaatan AI turut memberikan ruang bagi pengembangan kurikulum yang adaptif, fleksibel, dan kontekstual sesuai dengan minat,
kemampuan, dan kebutuhan belajar individu.
Di sisi lain, penerapan AI di bidang pendidikan masih menghadapi tantangan serius, mulai dari isu etika dan perlindungan data siswa hingga ketimpangan akses teknologi di daerah
yang belum memiliki infrastruktur digital yang memadai. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, pengembang teknologi
Dan masyarakat diperlukan guna
merancang kebijakan serta strategi penerapan AI yang inklusif, etis, dan berkesinambungan.
Namun kebijakan pendidikan kerap terjebak pada pendekatan teknokratis. Pengadaan perangkat digital, aplikasi pembelajaran, dan sistem berbasis AI sering kali lebih diutamakan
dibandingkan penguatan kompetensi pedagogis guru. Padahal, tanpa pemahaman pedagogi
digital dan etika penggunaan AI, teknologi berpotensi digunakan secara serampangan dan
kehilangan makna edukatifnya.
Pendidikan membutuhkan kebijakan yang tidak hanya adaptif
terhadap teknologi, tetapi juga berpihak pada pengembangan manusia seutuhnya.
Pendidikan di era digital dan kecerdasan buatan harus tetap berbasis nilai. Teknologi bukan solusi instan bagi persoalan pendidikan. Teori kritis pendidikan mengingatkan bahwa
setiap inovasi harus dikaji dampaknya terhadap keadilan, relasi sosial, dan pembentukan kesadaran peserta didik. Pendidikan yang terlalu berorientasi pada kecepatan dan efisiensi
berisiko mengabaikan pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Oleh karena
itu.
Integrasi teknologi dan AI harus disertai kerangka pedagogis yang kuat, kebijakan yang inklusif, serta literasi digital yang memadai bagi guru dan peserta didik.
Teknologi perlu diarahkan untuk memperkuat proses belajar yang bermakna, dialogis, dan berkeadilan. Era
digital dan kecerdasan buatan adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun arah pendidikan tetap berada di tangan manusia.
Daftar Pustaka
Rusman, I., Nurmala, Nurasti, Rahmadania, Wahyuni, & Qadrianti, L. (2024). Peran
Kecerdasan Buatan dalam Pembelajaran di Era Digital. Prosiding Seminar Nasional
Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan IAIM Sinjai, 3, 42-46.
Saugadi, S., Nuralan, S., & Ikbal, I. (2025). Transformasi Pendidikan Di Era Artificial
Intelligence (AI). Tolis Ilmiah : Jurnal Penelitian, 7(1), 107–111.















